Kamis, 2008 Januari 17
Terkait bencana meluapnya air DAS Bengawan Solo yang terjadi sejak akhir Desember 2007 serta masih lambannya distribusi bantuan makanan dan obat-obatan dilokasi bencana, maka kami Jaringan Relawan Kemanusiaan Bali (JRK-Bali) bersama Komunitas Pekerja Bersepeda Indonesia (Bike To Work Indonesia) Chapter Bali, membentuk “POSKO PEDULI BANJIR BENGAWAN SOLO” yang akan beroperasi 24 jam penuh. (lagi…)
Nasional 18 Oktober 2002
TEMPO Interaktif, Jakarta:Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali, menolak bantuan obat dan tenaga dokter dari masyarakat Internasional Red Cross, Singapura. Pasalnya, persediaan obat saat ini sudah mencukupi. Oleh karena itu delapan dokter relawan dan 95 boks obat-obatan yang sudah dikirimkan, sampai saat ini masih tertahan di Bandar Udara Ngurah Rai.
Menurut keterangan pimpinan Jaringan Relawan Kemanusiaan Bali (JKRB), sampai saat ini kebutuhan obat-obatan memang sudah mencukupi. Namun dia menyayangkan penolakan yang dilakukan terhadap bantuan yang telah datang di Bali.”Mestinya bisa dibagikan ke enam rumah sakit lain atau pihak yang membutuhkan, ”katanya. Delapan dokter di bawah pimpinan dokter Michael dari Singapura tersebut, sampai saat ini juga belum mengetahui apakah tenaga mereka akan digunakan.
Pihak Rumah Sakit Sanglah saat ini telah menempelkan pengumuman di beberapa lokasi bahwa obat-obatan yang ada telah mencukupi. Salah satu pengumuman juga ditempel di media center Hotel Hard Rock Kuta. (Tomi Aryanto-Tempo News Room)
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2002/10/18/brk,20021018-09,id.html
Di hari-hari duka ini, kami Jaringan Relawan Kemanusiaan Bali (JRKB), ingin mengajak segenap masyarakat bangsa di seluruh tanah air, khususnya di Bali, untuk bersama-sama mengungkapkan rasa duka cita dan solidaritas yang sedalam-dalamnya atas jatuhnya ratusan korban baik yang meninggal, luka-luka maupun hilang dalam tragedi bom di jalan Legian Bali dan di Manado, melalui kerja kemanusiaan yang nyata. (lagi…)
